Senja baru saja kehilangan jingganya saat terdengar jerit tangis dari sebuah rumah di tengah desa. Tangis Kinar begitu menyayat, memeluk jasad kaku suaminya. Kerumunan warga yang menyaksikan hanya mampu terpaku, tanpa kata dan bicara. Hanya butiran air mata dan isak yang sesekali terdengar. Ketika Kinar mulai kalap dan tak mampu mengendalikan tangisnya, beberapa wanita memaksanya menjauh dari jasad suaminya.
Bau anyir menguar tajam, membuat siapa pun yang berada di ruangan itu bergidik ngeri. Raga yang terbaring kaku di atas tikar pandan menjadi pusat perhatian warga. Kain penutupnya basah oleh cairan berwarna merah segar dan berbau anyir. Tak ada yang berani mendekat atau menyentuh jasad tanpa kepala itu.
Tampak di sudut ruangan seorang pria gemetaran dengan wajah pucat memeluk lutut. Dia adalah Dani, sahabat dari jasad yang kini terbaring membisu. Saksi dari kejadian tragis yang terjadi senja tadi. Tapi Dani hanya bisa menangis ketakutan, menjerit dan berteriak saat ada beberapa orang yang ingin mendekat. Hingga pemakaman usai dilakukan, Dani masih belum bisa menjawab pertanyaan apa lagi menceritakan apa yang telah terjadi.
Ketua RT berhasil mengorek keterangan dari warga. Berdasarkan cerita mereka, dua sahabat itu pergi memancing ke sungai yang berada di tepi hutan hingga senja. Tiba-tiba Dani pulang ke desa sambil berteriak minta tolong dan menunjuk ke arah sungai. Warga menuju tempat yang ditunjuk Dani, dan menemukan jasad suami Kinar yang menggenaskan.
Ikan hasil tangkapan mereka pun berserakan di tepi sungai ada beberapa yang terkoyak seperti habis dimakan binatang buas. Ceceran darah dimana-mana, tak ada jejak atau petunjuk, hanya Dani satu-satunya saksi yang tetap memilih diam membisu.
“Pak RT apa tidak sebaiknya kita selidiki saja apa yang terjadi? Kejadian ini sangat janggal bahkan Polisi juga kesulitan untuk menanganinya,” ucap Satria.
“Apa yang bisa dilakukan pemuda macam kamu, mau mulai dari mana menyelidikinya?” jawab pak RT sinis.
Satria tersenyum kecut mendapat perlakuan yang meremehkan. Namun tetap berusaha meyakinkan niatnya untuk mencari tahu.
“Saya akan tetap mencari tahu, dengan atau tanpa izin anda. Kasus ini harus diungkap. Pak mungkinkah ini ulah dari Mi…?” ucapan Satria terhenti melihat Pak RT. mengangkat tangan.
“Diam kau, jangan berani menyebutnya, tahu apa kau anak muda!” bentaknya marah.
Satria menunduk ketakutan, tapi rasa penasaran dan jiwa mudanya terus bergejolak. Mencoba menepis rasa takut dan ingin mencari tahu kebenaran cerita yang didengarnya sejak kecil. Konon katanya ada makhluk berwujud wanita yang tinggal di dalam hutan tepian sungai. Wanita tersebut gemar makan ikan, dan siapa pun yang ditemuinya harus memberikan semua hasil tangkapan padanya jika tak mau celaka.
Jiwa muda Satria berontak, karena kasus pembunuhan yang tak terungkap hanya karena percaya mitos. Bisa jadi Dani tersangkanya, karena seluruh warga tahu kalau Dani pernah menaruh hati pada Kinar. Pikiran ala detektif yang sering disaksikan Satria dalam film mulai dijalankan. Berulang kali berusaha menemui Dani untuk mengorek keterangan tapi hasilnya nihil karena dani memilih bungkam. Berdasarkan pemeriksaan dokter, Dani dinyatakan telah mengalami gangguan jiwa.
Masih belum menyerah, Satria mencoba mencari jejak-jejak yang mungkin ditinggalkan pelaku di tempat kejadian perkara. Embusan angin membuat rambut halus di tengkuk Satria meremang, menyapukan pandangan ke arah hutan. Mata mudanya mencoba menembus gelapnya misteri yang tersimpan di sana.
Air sungai yang tidak terlampau deras dengan beberapa batu yang menyembul di permukaan, membuat otaknya bekerja. Dia mencoba mencari jalan untuk menuju ke seberang sungai, yaitu Kawasan hutan pinus yang kerap berselimut kabut. Senyum manis muncul di wajah Satria saat ide cemerlang di kepala. Misi akan mulai besok pagi.
“Mbak Nisa, pamit ya aku mau pergi memancing. Jangan bilang Ibu dan Bapak, hanya sebentar saja tapi jika sampai senja aku tidak pulang tolong beri tahu Pak RT,” bisik Satria pada Nisa kakak perempunnya yang tengah menjemur pakaian di belakang rumah.
“Gila, apa kejadian sepekan yang lalu tidak membuatmu takut? Jangan cari masalah Sat,” cegah Nisa.
“Tenang Mbakku yang cantik, aku hanya pergi memancing sebelum tengah hari pasti sudah pulang. Ingat jaga rahasia ini ya,” ucap Satria sambil mengedipkan mata dan berlalu meninggalkan Nisa.
Pagi yang cerah dan hangat menyinari wajah tampan Satria. Postur tubuh tegap melangkah pasti menuju tepian sungai. Langkah terhenti sesaat sebelum kaki jenjangnya melompati bebatuan di sungai menuju seberang. Senyum kembali tersungging saat berhasil menyeberang sungai tanpa membuat kaki basah.
Sebuah pohon besar menjadi tujuan selanjutnya, tempat yang teduh dengan rumput hijau terhampar seperti permadani hijau yang empuk. Tanpa menunggu lama, dengan cekatan tangan kekarnya memasang umpan pada mata kail yang dibawa. Menyulut sebatang rokok, kemudian menyesap secangkir kopi yang baru saja dituang dari dalam termos.
Punggung bersandar pada batang pohon, sembari menikmati semilir angin dan indahnya alam. Tanpa menunggu lama, mata kailnya dimakan ikan. Seekor ikan besar berhasil mengisi keranjang bambu yang kosong. Menjelang tengah hari, keranjang bambunya hampir penuh berisi ikan-ikan segar.
“Rezeki anak ganteng ini Namanya, Mbak Nisa pasti sangat senang aku bawakan banyak ikan. Makan besar siang nanti, hemm lezat,” gumam Satria, gembira dengan hasil tangkapannya.
Satria menatap bayangan tubuhnya yang tampak semakin pendek, menandakan waktu tengah hari hampir tiba. Gegas mengemas beberapa barang yang dibawa, tapi Joran yang tertancap di tanah tiba-tiba bergerak. Dengan sigap Satria mengendalikan kailnya, bertarung melawan deras air sungai dan perlawanan ikan yang memakan umpan. Ikan besar membuatnya bersemangat untuk menaklukkan meski peluh membasahi wajah.
“Mas, boleh minta ikannya?” suara lembut wanita yang entah dari mana datangnya tiba-tiba terdengar.
Satria menoleh sesaat sebelum menjawab, ada tanda tanya besar di kepala namun diabaikan.
“Silakan Mbak ambil saja sendiri, saya masih sibuk.”
Satria tersenyum puas mendapat tangkapan besar, ikan dengan berat hampir 2 kilogram berada dalam genggaman. Wanita yang tadi meminta ikan tampak menunduk dengan rambut menutupi wajah, tengah asyik dengan keranjang ikan di hadapan. Mungkin masih memilih, pikir Satria. Tapi alangkah terkejutnya saat mendapati ikan hasil tangkapannya tersisa sedikit, dan tangan wanita itu penuh darah segar ikan-ikannya.
“A-apa kau memakan ikan mentah Mbak?” tanya Satria gemetar.
Wanita itu menengadahkan wajah menatap Satria yang berdiri mematung. Wajahnya berlumuran darah ikan, bau anyir menguar tajam. Belum hilang rasa takut, mata Satria membulat melihat sebuah senyum dari bibir wanita itu yang tanpa lekukan. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh, ketakutan membuatnya gemetaran, terlebih lagi saat melihat telapak kaki sang wanita tidak menapak seluruhnya, melainkan berjinjit. Karena kaki tersebut tidak memiliki tumit.
Satria bersurut mundur, ikan besar di tangan lepas dan jatuh di atas belukar, seluruh tubuh lemas. Lutut goyah tak kuasa menahan berat tubuhnya lagi.
“Berikan semua ikan ini padaku!” seru sang wanita.
Satria tak mampu menjawab, hanya anggukan sebagai tanda mengiyakan.
“Bagus, daripada tak klethak ndhasmu!” teriak wanita sambil menampakkan seringai menakutkan.
Rasa takut membuat air mata Satria luruh. Teringat dengan cerita sosok wanita yang dianggapnya sebagai mitos, kini tepat berada di hadapan. Sekuat tenaga melangkah mundur hendak pergi menjauh, hingga tiba di tepi sungai kakinya terpeleset. Tubuh meluncur lemas masuk ke dalam air dan hanyut terbawa arus sungai.
Purbalingga, 1 Juni 2022